Sesama Manusia

Perintah yang tidak boleh ditiadakan, yang harus diajarkan dan dilakukan, perintah terbesar, adalah perintah untuk mengasihi sesama manusia.  Tidak ada perintah lain yang lebih utama.

Siapakah yang dimaksud dengan sesama manusia?

Pertanyaan sederhana. Sangat mudah dijawab. Sayang sekali selalu ada manusia yang hidup dengan memandang rendah sesamanya. Menganggap kelompok sendiri benar dan kelompok lain salah. Memandang manusia yang berbeda sebagai lebih rendah dan tidak layak untuk dikasihi. Tidak heran pertanyaan “Siapakah sesamaku manusia?” juga ditanyakan kepada Yesus sekian ribu tahun yang lalu.

 

Lukas 10: 29  Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?”

Pertanyaan itu diberikan untuk membenarkan diri sendiri dan Yesus menjawab dengan berani.  Untuk memahami dengan baik, anda perlu mengetahui kondisi waktu itu.

Saat itu, orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria. Orang Yahudi menganggap orang Samaria sebagai kafir dan kelompok kelas kambing. Orang Samaria juga tidak suka dengan orang Yahudi.  Konflik tajam antara dua kelompok masyarakat ini dicatat dengan terus terang dalam
Alkitab.

Orang-orang Samaria menolak rombongan Yahudi masuk ke desa mereka. Ini membuat dua orang Yahudi yang menjadi murid Yesus menjadi sangat marah dan berniat membakar desa untuk membinasakan orang-orang Samaria.  Membunuh dalam nama Tuhan.

 

Lukas 9

53  Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem.

54  Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?”

 

Seorang Samaria sangat tidak nyaman ketika seorang Yahudi mengajaknya bicara.

Yohanes 4:9  Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku,
seorang Samaria
?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)

Orang-orang Yahudi menuduh Yesus sebagai  orang Samaria yang dianggap kafir dan kerasukan setan.

Yohanes 8:48  Orang-orang Yahudi menjawab Yesus: “Bukankah benar kalau kami katakan bahwa Engkau orang Samaria dan kerasukan setan?”

Dalam kondisi konflik demikian seorang Yahudi-ahli Taurat bertanya, “Siapakah sesamaku manusia?”  Yesus menjawab di hadapan para murid yang baru saja berniat membunuh orang  Samaria.

 

Lukas
10:30
Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja  merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.

31-32  Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.

33-35 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia  menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.  Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.

36-37 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Menurut hukum agama Yahudi, suku Lewi adalah pelayan tempat ibadah dan imam adalah pemimpin agama.  Dengan menggunakan tokoh  Lewi dan imam dalam ceritaNya, Yesus jelas sengaja menyinggung sang ahli Taurat – seorang beragama.  Seolah-olah Yesus berkata, orang Samaria sekalipun kafir adalah manusia dan lebih manusiawi daripada orang beragama yang mengaku mengenal Allah.

Ahli Taurat itu bertanya, “Siapakah sesamaku manusia?” hanya untuk membenarkan diri sendiri. Ia memandang rendah dan tidak bergaul dengan orang kafir yang tidak mengenal Allah. Sebagai ahli agama,  ia belum paham perintah terbesar adalah untuk mengasihi sesama manusia. Tapi Yesus mengasihinya dengan memberitahu kesalahannya.

Sekalipun tidak mengenal Allah dan kafir, sekalipun kelas kambing dan berbeda keyakinan, manusia tetap manusia. Manusia layak dikasihi.  Meskipun jahat dan tidak benar, manusia tetap dikasihi Allah.

 

Matius 5:45  Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

Tanpa membedakan apapun juga,  kasihilah sesama manusia.

Kejarlah kasih. Follow the way of love.

  26-July-2011

Iklan

Diterbitkan oleh

kejarlahkasih

Kejarlah kasih, follow the way of love. https://kejarlahkasih.wordpress.com

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s