Berita Pembebasan

Allah berkuasa mengampuni dosa. Allah tidak membutuhkan iman manusia sebagai syarat untuk mengampuni dosa.

Setelah mengajarkan untuk mengampuni, Dia tidak mungkin bertindak hina dengan tidak mengampuni. Oleh anugerah pada akhirnya semua akan dibebaskan dari penderitaan badani.

Berita pembebasan itu adalah kabar sukacita. Kebenaran yang memerdekakan. 


Ada seseorang berhutang kepada saya. Menagih pembayaran adalah hak saya. Tidak menagih juga hak saya.

Untuk menghapuskan piutang, saya tidak butuh persetujuan dari orang yang berhutang. Untuk tidak menagih, saya tidak mebutuhkan persetujuan maupun kepercayaan dari orang yang berhutang.

Setelah saya menghapuskan hutang orang itu maka saya tidak boleh menagih lagi. Seandainya orang itu tidak percaya kepada saya, maka ketidakpercayaan orang itu tidak mungkin berkuasa untuk membatalkan keputusan saya.

Jika seseorang bersalah kepada saya, maka hak untuk mengampuni orang itu ada pada saya. Untuk mengampuni, saya tidak membutuhkan ijin atau persetujuan dari orang yang bersalah tersebut. Tidak menuntut balas adalah hak saya.  Saya tidak membutuhkan kepercayaan dari orang yang bersalah itu sebagai syarat agar saya dapat mengampuni.

Orang bersalah itu boleh saja percaya kepada saya, namun kepercayaannya tidak mungkin mengharuskan saya untuk mengampuni kesalahannya.

Setelah diampuni maka orang itu bebas dari pembalasan dendam saya. Sekalipun orang itu tidak percaya bahwa saya telah mengampuni, ketidakpercayaan orang itu tidak mungkin mengharuskan saya untuk menuntut balas dendam.

Pengampunan tanpa syarat  adalah bukti kasih yang tidak terbantahkan. Tanpa syarat artinya saya tidak menukar  pengampunan dengan kewajiban tertentu dari orang yang akan diampuni.

Jika saya hanya mau mengampuni setelah orang yang bersalah mengaku dan minta maaf, maka itu sama sekali bukan bukti kasih. Kenapa? Karena itu berarti saya menyimpan kesalahan orang itu sampai ada pengakuan salah dan permohonan maaf.  Saya sama sekali tidak pantas mengaku sedang mengasihi karena kasih tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Bagaimana jika saya hanya mengampuni orang yang mau percaya kepada saya? Itu juga bukan bukti kasih melainkan bukti kesombongan. Itu artinya saya sedang menyimpan kesalahan sampai orang itu mengakui saya. Dengan kata lain, saya memaksa untuk diakui sebagai yang paling benar alias sedang meninggikan diri sendiri.  Apalagi mengharuskan orang yang hendak diampuni untuk percaya dan kemudian mengikuti semua kehendak saya, itu sama sekali bukan bukti kasih melainkan bukti kehendak untuk memperbudak.

Ketika memberikan pengampunan, orang yang bersalah kepada saya itu boleh percaya dan boleh juga tidak. Apapun pilihannya, tidak akan membatalkan pengampunan yang telah saya berikan. Bahkan seandainya orang itu tidak tahu bahwa saya telah mengampuni, maka pengampunan yang telah diberikan itu tidak menjadi batal. Mustahil saya membatalkan pengampunan hanya karena orang yang diampuni tidak mengetahui berita pembebasan itu.

Contoh lain. Sekelompok orang diseret dan dilemparkan ke penjara sementara. Tuntutan atas mereka adalah hukuman mati. Pengadilan mengadili berdasarkan kekuasaan yang dimilikinya. Keputusan pengadilan tertinggi adalah: bebas murni.

Apakah pengadilan membutuhkan ijin terdakwa untuk membuat keputusan bebas? Tentu tidak. Apakah kekuasaan pengadilan tertinggi dapat dibatalkan karena terdakwa tidak percaya kepada wewenang pengadilan? Mustahil.

Untuk mengeksekusi keputusan, apakah pengadilan membutuhkan terdakwa untuk percaya terhadap isi keputusan? Sama sekali tidak. Terdakwa boleh percaya dan boleh juga tidak percaya, namun keputusan bebas dari pengadilan tetap berlaku. Mereka tidak akan pernah dituntut lagi  atas perkara yang sama dan  hanya perlu bersiap-siap sambil menunggu waktu untuk dijemput keluar dari dalam tahanan sementara.

Berita pembebasan itu adalah kabar sukacita.  Kebenaran yang memerdekakan.

Apa yang terjadi seandainya berita pembebasan tidak sampai kepada mereka yang ada di dalam penjara sementara? Keputusan bebas pasti tidak batal. Namun mereka akan tetap menjalani hidup seperti terdakwa yang sedang menunggu vonis mati. Terbelenggu berbagai tuduhan palsu. Dikejar-kejar oleh ancaman hukuman yang timbul dari dalam diri dan di antara mereka sendiri. Takut kalau-kalau mereka dijemput keluar pada saat tidak siap karena percaya bahwa penjemputan berarti waktu penghukuman.

Padahal masa penantian dapat digunakan untuk bersukacita sambil melatih diri supaya menjadi sesuai dengan kehidupan di luar sana.

Sekalipun telah mendengar berita pembebasan, tetap ada orang-orang yang menolak. Mereka itu adalah orang-orang yang lebih suka tinggal sebagai tahanan daripada mempersiapkan diri untuk hidup sejati di luar sana. Mereka menyukai perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan dalam penjara gelap. Mereka lebih mencintai dusta daripada kebenaran.

Syukur kepada Allah, oleh anugerah pada akhirnya semua akan dibebaskan dari penderitaan badani.

Demikian juga yang terjadi dengan tuntutan perjanjian yang lama. TUHAN adalah bapa yang memberikan kitab Taurat dan kitab para nabi. TUHAN berhak untuk menghakimi. TUHAN berhak pula untuk tidak menuntut.

Allah berkuasa mengampuni dosa. Allah tidak membutuhkan iman manusia sebagai syarat untuk mengampuni dosa. Manusia dibenarkan bukan hanya karena iman. Mustahil untuk menyuap Allah untuk memberikan anugerahNya. Mustahil pula untuk melarang Allah memberikan anugerahNya.

Allah adalah kasih, mustahil Allah tidak mengasihi. Setelah mengajarkan untuk mengampuni, Dia tidak mungkin bertindak hina dengan tidak mengampuni.

Yesus adalah bapa bagi orang Israel sekaligus bapa bagi umat manusia. Sang penguasa yang pada akhirnya harus binasa supaya anak-anak manusia tidak perlu mengalami maut.

Dia tidak mempertahankan hakNya. Dia tidak lagi mengikuti kehendakNya sendiri melainkan telah belajar menjadi taat kepada kehendak Bapa.  Dia mengampuni anak-anak manusia. Sebelum kematianNya, Dia telah berdoa kepada Allah, BapaNya sendiri, supaya anak-anak manusia diampuni.

Allah mendengar. Dia dibangkitkan dari antara orang mati. Allah memuliakan Dia dan memberiNya nama di atas segala nama. Dia menjadi sulung di antara banyak saudara. BapaNya kini menjadi bapa kita bersama. Berita pembebasan telah disampaikan. Suatu perjanjian baru telah dimulai.

Kejarlah kasih, follow the way of love.

https://kejarlahkasih.wordpress.com/

Iklan

Diterbitkan oleh

kejarlahkasih

Kejarlah kasih, follow the way of love. https://kejarlahkasih.wordpress.com

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s